Teman Kerja Suamiku Menginap Di Rumah 2

| Minggu, 28 Juni 2026


 


Part 2

 

Aku yakin Bram juga mendengar teriakannya. Aku terkejut dan menangis, lalu aku keluar kamar dengan membanting pintu, lalu aku pergi ke pinggir kolam dan duduk di sana merenung dan menahan n*fsu. Dari kolam aku bisa melihat bayangan di Roni di depan komputer dan lampu di kamar Bram.

Tampak samar-samar Bram keluar dari kamar mandi tanpa sehelai benangpun menutupi tubuhnya. Karena di luar gelap tak mungkin dia melihatku. Tanpa sadar aku mendekat ke jendelanya dan memperhatikan Bram mengeringkan tubuh. G*la kekar sekali tubuhnya dan yang menarik perhatianku adalah pen*snya yang besar dan tegang mengangguk-angguk bergoyang sekanan memanggilku.

 

Aku malu sekali mengagumi dan mengaharapkan kembali pen*s itu masuk ke dalam v*gin*ku yang memang masih haus. Perlahan aku membelai-belai v*gin*ku hingga terasa basah, akhirnya aku memutuskan untuk memintanya pada Bram, dengan hati yang berdebar kencang dan n*fsu yang sudah menutupi kesadaran, aku nekat masuk ke dalam kamar Bram dan langsung mengunci pintu dari dalam.

Bram sangat terkejut “Fitri..apa yang kamu lakukan?”, aku hanya menempelkan telunjuk di bibirku dan memberi isyarat agar tidak bersuara karena Roni ada di kamar seberang. Langsung aku membuka pakaian tidurku dan terpampanglah tubuh putih mulusku tanpa sehelai benagpun di hadapannya,

Bram hanya terperangah dan menatap kagum pada tubuhku. Bram tersenyum sambil memperlihatkan pen*snya yang semakin membesar dan tampak berotot. Dengan segera aku langsung berlutut di hadapannya dan meng*lum pen*snya, Bram yang masih terkejut dengan kejadian ini hanya mendes*h perlahan merasakan pen*snya aku k*lum dan his*p dengan n*fs*ku yang sudah memuncak.

Sambil mulutku tetap di dalam pen*snya aku perlahan naik ke atas tempat tidur dan menempatkan v*gin*ku di mulut Bram yang sudah terbaring, dia mengerti maksudku dan langsung saja lidahnya melahap v*gin*ku yang sudah sangat basah, cukup lama kami dalam posisi itu, terinat akan Roni yang bisa saja tiba-tiba datang aku langsung mengambil inisiatif untuk merubah posisi dan perlahan duduk di atas pen*snya yang sudah meng*cung teg*ng dan besar panjang.

Perlahan aku arahkan dan masukan ke dalam lub*ng v*gin*ku, rasanya berbeda dengan saat aku diperk*sanya, perlahan tapi pasti aku merasaskan suatu s*nsasi yang amat besar sampai akhirnya keseluruhan b*tang pen*s Bram masuk ke dalam v*gin*ku “Ahh..sssfff..Braaam!” er*ngku perlahan menahan suara ga*rahku agar tidak terdengar,

Aku merasakan seluruh pen*snya memenuhi v*gin*ku dan menyentuh rah*mku. Sungguh suatu s*nsasi yang tak terbayangkan, dan s*nsasi itu semakin bertambah saat aku mulai menggoyangkan pant*tku naik turun sementara tangan Bram dengan puasnya terus memainkan kedua buah d*d*ku memuntir-muntir p*tingku hingga berwarna kemerahan dan keras

“ahh..ahh..” demikian er*ngan kami perlahan mengiringi suara pen*snya yan keluar masuk v*gin*ku clok..clok..clok? Tak tahan dengan nafs*nya mend*d*k Bram duduk dan meng*lum buah d*d*ku dengan rakusnya bergantian kiri kanan bergerak ke leher dan terus lagi.

Aku sungguh tak dapat menahan ga*rah yang selama ini terpendam. Mungkin karena n*fsu yang sudah sangat tertahan atau takut Roni mendengar tak kuasa aku melepaskan puncak ga*rahku yang pertama sambil mendekap erat Bram dan mengg*git pundaknya agar tidak bersuara, kudekap erta Bram seakan tak dapat dilepaskan mengiringi puncak org*smeku.

Bram merasakan pen*snya disiram cair*n hangat dan tahu bahwa aku mengalami org*sme dan membiarkanku mendekapnya sangat erat sambil memelukku dengan belaian hangatnya. Selesai aku org*sme sekiat 30 detik, Bram membalikan aku dengan pen*snya masih tertancap di dalam v*gin*ku.

 

Bram mulai menc*mbuku dengan menjil*ti leher dan p*tingku perlahan, entah mengapa aku kembali bern*fsu dan membalas ci*mannya denga mesra, l*dah kami saling berp*gutan dan Bram merasakan pen*snya kembali dapat keluar masuk dengan mudah karena v*gin*ku sudah kembali basah dan siap menerima ser*ngan berikutnya.

Dan Bram langsung memompa pen*snya dengan semangat dan cepat membuat tubuhku bergoyang dan buah d*d*ku bergerak naik turun dan sungguh suara yang timbul antara er*ngan kami berdua yang tertahan derit tempat tidur dan suara pen*snya keluar masuk di v*gin*ku kembali membakar ga*rahku dan aku bergerak menaik turunkan pant*tku untuk mengimbangi Bram.

Dan benar saja 10 menit kemudian aku sampai pada puncak org*sme yang kedua, dengan meletakan kedua kakiku dan menekan keras pant*tnya hingga pen*snya menyentuh rah*mku. Kupeluk Bram dengan erat yang membiarkan aku menikmati deburan ombak kenikmatan yang meny*rangku berkali-kali bersamaan keluarnya cair*nku.

Kug*git bib*rku agar tidak mengeluarkan suara, cukup lama aku dalam keadaan ini dan anehnya setelah selesai aku berada dalam puncak ternyata aku sudah kembali mengimbangi gerakan Bram dengan menaik turunkan pant*tku. Saat itulah kudengar pintu kamarku terbuka dan detik berikutnya pintu kamar Bram diketuk Roni,

“Bram..kau sudah tidur?”, demikian ketuk Roni. Langsung saja Bram melepaskan pelukannya dan menyuruhku bersembunyi di kamar mandi. Sempat menyambar pakaian tidurku yang tergeletak di lantai aku langsung lari ke kamar mandi dan mengunci dari luar. Sungguh hatiku berdebar dengan kerasnya membayangkan apa jadinya jika aku ketahuan suamiku.

Bram dengan santai dan masih bertel*nj*ng membuka pintu dan mengajak Roni masuk, Roni sempat terkejut melihat Bram tel*nj*ng,”Sedang apa kamu Bram” tanpa curiga dengan tempat tidur yang berantakan yang kalau diperhatikan dari dekat ada cair*n kenikmatanku.

Bram hanya tersenyum dan mengatakan,”Mau tau aja..” Dasar Roni dia langsung membicarakan suatu hal pekerjaan dan mereka terlibat pembicaraan itu. Kurang lebih sepuluh menit mereka berbicara dan sepuluh menit juga hatiku sungguh berdebar-debar tapi anehnya dengan keadaan ini n*fsuku sungguh semakin menjadi-jadi.

Setelah Roni keluar, Bram kembali mengunci pintu kamar dan mengetuk kamar mandi perlahan,”Fitri buka pintunya..sudah aman”. Begitu aku buka pintunya Bram langsung menarik aku dan mendudukanku di meja dekat kamar mandi, langsung saja dibukanya kedua kakiku dan bless pen*snya kembali memenuhi v*gin*ku

“Ahhh..ahh..” er*ngan kami berdua kembali terdengar perlahan sambil terus menggoyangkan pant*tnya maju mundur Bram melahap buah d*d*ku dan p*tingku. Sepuluh menit berlalu dan goyang Bram semakin cepat sehingga aku tahu dia akan mencapai puncaknya, dan akupun merasakan hal yang sama

 

“Braaam lebih cepat sayang aku sudah hampir keluar..” des*hku
“Tahan sayang kita bersamaan keluarnya”,
Dan benar saja saat kurasakan m*ninya menyembur deras dalam v*gin*ku aku mengalami org*sme yang ketiga dan lebih hebat dari yang pertama dan kedua, kami saling berpelukan erat dan menikmati puncak ga*rah itu bersamaan.

“Braaammm..,” des*hku tertahan.
“Ahhh Fitri..kau hebat..” demikian katanya.
Akhirnya kami saling berpelukan lemas berdua, sungguh suatu pertempuran yang sangat melelahkan. Saat kulirik jam ternyata sudah dua jam kami berg*mul.

“Terima kasih Bram..kau hebat..” kataku dengan kecupan mesra dan langsung memakai pakaian tidurku kembali dan kembali ke kamarku. Roni tidak curiga sama sekali dan tetap berkutat dengan komputernya dan tidak menghiraukanku yang langsung berbaring tanpa melepas pakaianku seperti biasanya karena aku tahu ada bekas c*uman Bram di sekujur buah d*d*ku.

Malam itu aku merasa sangat bersalah pada Roni tapi di lain sisi aku merasa sangat puas dan tidur dengan nyenyaknya. Esoknya seperti biasa di hari Minggu aku dan Roni berenang di pagi hari tetapi mengingat adanya Bram, kami yang biasanya berenang bertel*nj*ng akhirnya memutuskan memakai pakaian renag,

Aku syukuri karena hal ini dapat menutupi buah d*d*ku yang masih memar karena gig*tan Bram. Saat kami berenang aku menyadari bahwa Bram sedang menatap kami dari kamarnya. Dan saat Roni sedang asyik berenang kulihat Bram memanggilku dengan tangannya dan yang membuat aku terkejut dia menunjukan pen*snya yang sudah meng*cung besar dan tegang.

Seperti di hipnotis aku nekat berjalan ke dalam.”Ron aku mau ke dalam ambil makanan ya..!” kataku pada Roni, dia hanya mengiyakan sambil terus berenang, Roni memang sangat hobi berenang bisa 2 jam nonstop tanpa berhenti.
Aku dengan tergesa masuk ke dalam dan menuju kamar Bram.

Di sana Bram sudah menunggu dan tak sabar dia melucuti pakain renangku yang memang hanya menggunakan tali sebagai pengikatnya. “G*la kamu Bram..bisa ketahuan Roni lho,” protesku tanpa perlawanan karena aku sendiri sangat berga*rah oleh tantangan ini. dan dengan kasar dia menc*umi punggungku sambil mer*mas buah d*d*ku

“Tapi kamu menikmatinya khan?!,” goda Bram sambil menc*um leher belakangku. Dan aku hanya mendes*h menahan nikmat dan tantangan ini. Yang lebih g*la Bram menarikku ke jendela dan masih dari belakang dia mer*mas-r*mas buah d*d*ku dan mec*umi punggung hingga pant*tku,

 

“G*la kau Bram, Roni bisa melihat kita,” tapi anehnya aku tidak berontak sama sekali dan memperhatikan Roni yang benar-benar sangat menikamti renangnya. Di kamar Bram pun aku sangat menikmati sentuhan Bram. “Fitri kamu suka ini khan?” tanyanya sambil dengan keras menusukan pen*snya ke dalam v*gin*ku dari belakang.

“AHH..Bram..” teriakku kaget dan nikmat, sekarang aku berani bersuara lebih kencang karena tahu Roni tidak akan mendengarnya. Langsung saja Bram memaju mundurkan pen*snya di v*gin*ku..
”Ahh.. Bram lebih kencang..f*ck me Bram..puaskan aku Bram..pen*smu sungguh luar biasa..Bram aku sayang kamu..” teriakku tak keruan dengan masih memperhatikan Roni.

Bram mengimbangi dengan gerakan yang l*ar hingga v*gin*ku terasa lebih dalam lagi tersentuh pen*snya dengan posisi ini,”Fitri..khhaau hhebat..” des*hnya sambil terus menekanku, kalau saja Roni melihat sejenak ke kamar Bram maka dia akn sangat terkejut meilhat pemandangan ini, istrinya sedang berc*nta dengan rekan kerjanya.

Ternyata kami memang bisa saling mengimbangi, kali ini dalam waktu 20 menit kami sudah mencapai puncak secara bersamaan
“Teruuus Bram lebih khheeenncang..ahhhh aku keluar Braaaaam”, teriaku.
“Aaakuu juga Tyyaaasss..nikkkkmat ssekali mmmeemee*mu..aahhhhh.” teriaknya bersamaan dengan puncak kenikmatan yang datang bersamaan.

Setelah itu aku langsung menc*um bib*rnya dan kembali mengenakan pakaian renangku dan kembali berenang bersama Roni yang tidak menyadari kejadian itu. Setelah itu hari-hari berikutnya sungguh mendatangkan ga*rah baru dalam hidupku dengan tantangan berc*nta bersama Bram.

Pernah suatu saat ketika akhirnya Roni mau berc*nta denganku di suatu malam hingga akhirnya dia tertidur kelelahan, aku hendak mengambil s*s* di dapur dan karena sudah larut malam aku nekat tidak mengenakan pakaian apapun.

Saat aku membungkuk di depan lemari es sekelebat ku lihat bayangan di belakangku sebelum aku menyadari Bram sudah di belakangku dan langsung menubruku dari belakang. Pen*snya langsung menusuk v*gin*ku yang membuatku hanya tersedak dan menahan nikmat tiba-tiba ini.

Kami berg*mul di lantai dapur lalu dia mengambil kursi dan duduk di atasnya sambil memangku aku,

 

“Bram kamu nakal” des*hku yang juga menikmatinya dan kami berc*nta hingga hampir pagi di dapur. Sungguh bersama Bram kudapatkan ga*rah terpendamku selama ini. Akhirnya ketika proyek kantor Roni selesai Bram harus pergi dari rumah kami dan malam sebelum pergi aku dan Bram menyempatkan berc*nta kembali.

 

edit

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama
© Design 1/2 a px. · 2015 · Pattern Template by Simzu · © Content cerita aku