Teman Kerja Suamiku Menginap Di Rumah 2

| Minggu, 28 Juni 2026


 


Part 1

 

Sebut saja nama ku Fitri, wanita umur 28 thn dan orang-orang bilang bentuk tubuhku amatlah proposional, tinggi 170 cm berat 55kg dan ukuran buah d*d* 34B, ditunjang wajah cantik (itu juga orang-orang yang bilang) dan kulit putih cerah.

 

Sebelumnya aku memang sering bekerja menjadi SPG pada pameran mobil dan banyak orang mengelilingi mobil yang Aku pamerkan bukan utk melihat mobil tetapi untuk melihatku. Menikah dengan Roni, 30 thn, seorang pekerja sukses. Kami memang sepakat utk tidak punya anak terlebih dahulu dan kehidupan s*ks kami baik-baik saja,

Roni dapat memenuhi kebutuhan s*ks ku yang boleh dibilang agak hyp*r..sehari bisa minta 2 sesi pagi sebelum Roni berangkat kerja dan malam sebelum tidur. Dan cerita ini berawal dari kesuksesan Roni bekerja di kantornya dan mendapat kepercayaan dari sang atasan yang sangat baik.

Kepercayaan ini membuat dia sering harus bekerja overtime, pada awalnya aku bisa menerima semua itu tetapi kelamaan kebutuhan ini harus dipenuhi juga dan itulah yang membuat kami sering bertengkar karena kadang Roni harus berangkat lebih pagi dan lewat tengah malam baru pulang.

Dan mulailah cerita ini ketika Roni mendapat tanggung jawab untuk menangani suatu proyek dan dia dibantu oleh rekan kerjanya Bram dari luar kota. Pertama diperkenalkan Bram langsung seperti terkesima dan sering menatapku, hal itu membuatku risih. Bram cukup tampan gagah dan kekar.

Karena tuntutan pekerjaan dan efisiensi kantor, Roni memutuskan agar Bram tinggal di rumah kami utk sementara. Dan memang mereka berdua sering bekerja hingga larut malam di rumah kami. Bram tidur di kamar persis di seberang kamar kami.

Sering di malam hari aku berpamitan tidur matanya yang nakal suka mencuri pandang diantara sela-sela baju tidur yang aku kenakan. Aku memang senang tidur bertel*nj*ng agar jika Roni datang bisa langsung berc*nta. Pernah suatu saat ketika pagi hari,

Kami, aku dan Roni berc*nta di dapur waktu masih pagi sekali dengan posisiku duduk di meja dan Roni dari depan, tiba-tiba Bram muncul dan melihat kami, dia menempelkan telunjuk dimulutnya agar aku tidak menghentikan kegiatan kami, karena kami sedang dalam puncaknya dan Roni yang membelakangi Bram dan aku juga tidak tega menghentikan Roni,

Akhirnya ku biarkan Bram melihat kami berc*nta tanpa Roni sadari hingga kami berdua org*sme. Dan aku tahu Bram melihat tubuh tel*nj*ngku ketika Roni melepaskan pen*snya dan terjongkok di bawah meja. Setelah kejadian itu Bram lebih sering memperhatikan tiap lekuk tubuhku.

Sampai suatu waktu ketika pekerjaan Roni benar2 sibuk sehingga hampir seminggu tidak menyentuhku. Di hari Jum’at kantor tempat Roni bekerja mengadakan pesta dinner bersama di rumah atasan Roni . Rumahnya terdiri dari dua lantai yang sangat mewah di lantai 2 ada semacam galeri barang2 antik.

 

Kami datang bertiga dan malam itu aku mengenakan pakaian yang sangat s*ksi, gaun malam warna merah yang terbuka di bagian belakang dan hanya dikaitkan di belakang leher oleh kaitan kecil sehingga tidak memungkinkan memakai **, bagian bawahpun terdapat sobekan panjang hingga sejengkal di atas lutut,

Malam itu saya merasa sangat s*ksi dan Bram pun sempat terpana melihatku keluar dari kamar. Sebelum berangkat aku dan Roni sempat berc*nta di kamar dan tanpa sepengetahuan kami ternyata Bram mengintip lewat pintu yang memang kami ceroboh tidak tertutup sehingga menyisakan celah yang cukup untu melihat kami dari pantulan cermin,

Sayangnya karena letih atau terburu-buru mau pergi Roni org*sme terlebih dahulu dan aku dibiarkannya tertahan. Dan Bram mengetahui hal itu. Malam itu ketika acara sangat ramai tiba-tiba Roni dipanggil oleh atasannya untuk diperkenalkan oleh customer.

Roni berkata padaku untuk menunggu sebentar, sambil menunggu aku ke lantai 2 untuk melihat barang2 antik, di lantai 2 ternyata keadaan cukup sepi hanya 2-3 orang yang melihat-lihat di ruangan yang besar itu. Aku sangat tertarik oleh sebuah cermin besar di pojokan ruangan, tanpa takut aku melihat ke sana dan mengaguminya juga sekaligus mengagumi kes*ksian tubuhku di depan cermin, tanpa ku sadari di sampingku sudah berada Bram .

“Udah nanti kacanya pecah lho..cakep deh..!”, canda Bram
“Ah bisa aja kamu Bram”,balasku tersipu.
Setelah berbincang2 di depan cermin cukup lama Bram meminta tolong dipegangkan gelasnya sehingga kedua tanganku memegang gelasnya dan gelasku.

“Aku bisa membuat kamu tampak lebih s*ksi”,katanya sambil langsung memegang rambutku yang tergerai dengan sangat lembut. Tanpa bisa mengelak dia telah menggulung rambutku sehingga menampak leherku yang jenjang dan mulus dan terus terang aku seperti terpesona oleh keadaan diriku yang seperti itu.

Dan memang benar aku terlihat lebih s*ksi. Dan saat terpesona itu tiba-tiba tangan Bram mer*ba leherku dan membuatku geli dan detik berikutnya Bram telah menempelkan bibirnya di leher belakangku, daerah yang paling sens*tif buatku sehingga aku lemas dan masih dengan memegang gelas Bram yang telah menyudutkanku di dinding dan menc*umi leherku dari depan.

“Bram apa yang kamu lakukan..lepaskan aku Bram..lepas..!”,rontaku tapi Bram tahu aku tidak akan berteriak di suasana ini karena akan mempermalukan semua orang. Bram terus menyerangku dengan kedua tanganku memegang gelas dia bebas mer*ba buah d*d*ku dari luar dan terus menc*umi leherku,

Sambil meronta-ronta aku merasakan ga*rahku meningkat, apalagi saat tiba-tiba tangan Bram mulai mer*ba belahan bawah gaunku hingga ke sel*ngk*nganku.
“Bram..hentikan Bram aku mohon..tolong Bram..jangan lakukan itu..”,rintihku, tapi Bram terus menyerang dan jari tengah tangannya sampai di bibir v*gin*ku yang ternyata telah basah karena ser*ngan itu.

 

Dia menyadari kalau aku hanya mengenakan G-str*ng hitam dengan kaitan di pinggirnya, lalu dengan sekali sentakan dia menariknya dan terlepaslah G-str*ngku. Aku terpekik pelan apalagi merasakan ada benda keras mengganjal pah*ku. Ketika Bram sudah semakin l*ar dan akupun tidak dapat melepaskan,

Tiba-tiba terdengar suara Roni memanggil dari pinggir tangga yang membuat pegangan himpitan Bram terlepas, lalu aku langsung lari sambil merapikan pakaian ku menuju Roni yang tidak melihat kami dan meninggalkan Bram dengan G-str*ng hitamku.

Aku sungguh terkejut dengan kejadian itu tapi tanpa disadari aku merasakan ga*rah yang cukup tinggi merasakan tantangan melakukan di tempat umum walau dalam kategori dip*rk*sa. Ternyata pesta malam itu berlangsung hingga larut malam dan Roni mengatakan dia harus melakukan meeting dengan customer dan atasannya

Dan dia memutuskan aku untuk pulang bersama Bram. Tanpa bisa menolak akhirnya malam itu aku diantar Bram, diperjalanan dia hanya mengakatakan
“Maaf Fitri..kamu sungguh cantik malam ini.” Sepanjang jalan kami tidak berbicara apaun.

Hingga sampai dirumah aku langsung masuk ke dalam kamar dan menelungkupkan diri di kasur, aku merasakan hal yang aneh antara malu aku baru saja mengalami perk*saan kecil dan perasaan malu mengakui bahwa aku terangs*ng hebat oleh ser*ngan itu dan masih menyisakan ga*rah.

Tanpa sadar ternyata Bram telah mengunci semua pintu dan masuk ke dalam kamarku, aku terkejut ketika mendengar suaranya’,
“Fitri aku ingin mengembalikan ini”‘ katanya sambil menyerahkan G-str*ngku berdiri dengan celana pendek saja, dengan berdiri aku ambil G-str*ngku dengan cepat,

Tapi saat itu juga Bram telah menyergapku lagi dan langsung menc*umiku sambil langsung menarik kaitan gaun malamku, maka bug*lah aku diahadapannya. Tanpa menunggu banyak waktu aku langsung dijatuhkan di tempat tidur dan dia langsung menindihku.

Aku meronta-ronta sambil menendang-nendang?
”Bram..lepaskan aku Bram..ingat kau teman suamiku Bram..jangan..ahh..aku mohon”, erangku ditengah rasa bingung antara n*fsu dan malu,

Tapi Bram terus menekan hingga aku berteriak saat pen*snya menyeruak masuk ke dalam v*gin*ku, ternyata dia sudah siap dengan hanya memakai celana pendek saja tanpa cel*na d*lam.
“Ahhhh?Braam..kau..:’ Lalu mulailah dia memompaku dan lepaslah perlawananku, akhirnya aku hanya menutup mata dan menangis pelan..

 

Clok..clok..clok..aku mendengar suara pen*snya yang besar keluar masuk di dalam v*gin*ku yang sudah sangat basah hingga memudahkan pen*snya bergerak. Lama sekali dia memompaku dan aku hanya terbaring mendengar des*h nafasnya di telingaku, tak berdaya walau dalam hati menikmatinya.

Sampai kurang lebih satu jam aku akhirnya melenguh panjang “Ahhh?..” ternyata aku org*sme terlebih dahulu, sungguh aku sangat malu mengalami perk*saan yang aku nikmati. Sepuluh menit kemudian Bram mempercepat pompaannya lalu terdengar suara Bram di telingaku “Ahhh..hmmfff?” aku merasakan v*gin*ku penuh dengan cair*n kental dan hangat sekitar tiga puluh deti kemudian Bram terkulai di atasku.

“Maaf Fitri aku tak kuasa menahan n*fsuku..”bisiknya pelan lalu berdiri dan meninggalkanku terbaring dan mener*wang. hinga tertidur Aku tak tahu jam berapa Roni pulang hingga pagi harinya. Esok paginya di hari sabtu seperti biasa aku berenang di kolam renang belakang,, Roni dan Bram berpamitan untuk nerangkat ke kantor.

Karena tak ada seorang pun aku memberanikan diri untuk berenang t*npa pakaian. Saat asiknya berenang tanpa disadari, Bram ternyata beralasan tidak enak badan dan kembali pulang, karena Roni sangat mempercayainya maka dia izinkan Bram pulang sendiri.

Bram masuk dengan kunci milik Roni dan melihat aku sedang berenang t*npa pakaian. Lalu dia bergerak ke kolam renag dan melepaskan seluruh pakaiannya, saat itulah aku sadari kedatangannya,
“Bram..kenapa kau ada di sini?” tanyaku,
“Tenang Fitri suamimu ada di kantor sedang sibuk dengan pekerjaannya”,

Aku melihat tubuhnya yang kekar dan pen*snya yang besar mengangguk angguk saat dia berjalan tel*nj*ng masuk ke dalam kolam “Pantas sajaku semalam v*gin*ku terasa penuh sekali”‘pikirku. Aku buru-buru berenang menjauh tetapi tidak berani keluar dr dalam kolam karena tidak mengenakan pakaian apapun juga.

Saat aku bersandar di pingiran sisi lain kolam, aku tidak melihat ada tanda2 Bram di dalam kolam. Aku mencari ke sekeliling kolam dan tiba-tiba aku merasakan v*gin*ku hangat sekali, ternyata Bram ada di bawah air dan sedang menjil*ti v*gin*ku sambil memegang kedua kakiku tanpa bisa meronta.

Akhirnya aku hanya bisa merasakan lidahnya merayapai seluruh sisi v*gin*ku dan memasuki liang sengg*maku..aku hanya menggigit bibir menahan ga*rah yang masih bergelora dari semalam. Cukup lama dia mengerjai v*gin*ku, nafasnya kuat sekali pikirku. Detik berikutnya yang aku tahu dia telah berada di depanku dan pen*snya yang besar telah meneyruak menggantian lidahnya? “Arrgghh..”

Er*ngku menahan nikmat yang sudah seminggu ini tidak tersentuh oleh Roni. Akhirnya aku membiarkan dia memperk*saku kembali dengan berdiri di dalam kolam renang. Sekarang aku hanya memeluknya saja dan membiarkan dia menjil*ti buah d*d*ku sambil terus memasukan pen*snya keluar masuk.

 

Bahkan saat dia tarik aku ke luar kolam aku hanya menurutinya saja, g*la aku mulai menikamti perk*saan ini, pikirku, tapi ternyata ga*rahku telah menutupi kenyataan bahwa aku sedang dip*rk*sa oleh teman suamiku. Dan di pinggir kolam dia membaringkanku lalu mulai menyet*buhi kembai tubuh mulusku..

”Kau sangat cantik dan s*ksi Fitri..ahh” bisiknya ditelingaku.
Aku hanya memejamkan mata berpura-pura tidak menikmatinya, padahal kalau aku jujur aku sangat ingin memeluk dan menggoyangkan pant*tku mengimbangi goyangan l*arnya.

Hanya suara er*nggannya dan suara pen*snya maju mundur di dalam v*gin*ku, clok..clok..clep..dia tahu bahwa aku sudah berada dalam kekuasaannya. Beberapa saat kemudian kembali aku yang mengalami org*sme diawali er*nganku “Ahhh..” aku menggigit keras bibirku sambil memegang keras pinggiran kolam,

“Nikmati sayang?”demikian bisiknya menyadari aku mengalami org*sme. Sebentar kemudian Bram lah yang berteriak panjang, “Kau hebat Fitri..aku cinta kau..AAHHH..HHH” dan aku merasakan semburan kuat di dalam v*gin*ku. G*la hebat sekali dia bisa membuatku menikmatinya pikirku.

Setelah dia mencabut pen*snya yang masih terasa besar dan keras, aku reflek menamparnya dan memalingkan wajahku darinya. Aku tak tahu apakah tamparan itu berarti kekesalanku padanya atau karena dia mencabut pen*snya dari v*gin*ku yang masih lapar.

Setelah Roni pulang herannya aku tidak menceritakan kejadian malam lalu dan pagi tadi, aku berharap Roni dapat memberikan kep*asan padaku. Dengan hanya menggenakan kimono dengan tali depan aku dekati Roni yang masih asik di depan komputernya di dalam kamar,

Lalu aku buka tali kimonoku dan kugesekan buah d*d*ku yang besar itu ke kepalanya dari belakang, berharap dia berbalik dan menyerangku. Ternyata yang kudapatkan adalah bentakannya
“Fitri..apakah kamu tak bisa melihat kalau aku sedang sibuk? Jangan kau ganggu aku dulu..ini untuk masa depan kita” teriaknya keras.

BERSAMBUNG.

edit

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama
© Design 1/2 a px. · 2015 · Pattern Template by Simzu · © Content cerita aku